Mulai dari Mengapa?

Siswa seringkali bingung mengapa mereka perlu belajar mata pelajaran tertentu. Sekolah pada umumnya hanya memberikan list mata pelajaran yang akan dipelajari pada semester ini tanpa mengomunikasikan secara jelas tujuan dari setiap mata pelajaran yang akan diajarkan. Meskipun tujuan ini biasanya sudah ada dalam dokumen yang diberikan kepada siswa/orangtua siswa, namun hal ini biasanya jarang dibaca atau dibaca namun tidak dimengerti sepenuhnya. Alhasil, tugas dari guru lah untuk menyampaikan hal ini.

Ketika guru memulai mata pelajaran, terutama di pertemuan pertama, dibandingkan dengan langsung pada topik, penjelasan mengenai alasan mempelajari mata pelajaran tertentu mutlak diberikan. Hal ini dikarenakan oleh tiga alasan. Yang pertama adalah, siswa bisa saja benar-benar tidak mengetahui alasan pelajaran ini ada. Jika demikian, maka mereka pun menjadi kurang tertarik dan tidak mau memahami pelajaran yang diberikan. Yang kedua adalah, siswa bisa saja sudah memiliki gambaran yang salah dipikiran mereka mengenai pelajaran ini. Hal ini bisa didapatkan dari pandangan umum mengenai pelajaran tertentu, atau dari ‘bisikan’ kakak kelas. Yang ketiga adalah siswa tahu alasan mengapa perlu mempelajari pelajaran ini, namun tidak mengetahui bagaimana mengaplikasikannya dalam hidup mereka. Artinya, siswa tidak tahu kegunaan pelajaran, dan tugas guru untuk membawa siswa bisa berpikir lebih panjang.

Memulai dari mengapa, menurut Simon Senek, pengarang dari buku: Start With Why, adalah  kunci utama untuk memimpin dan membawa perubahan. Mulai dari mengapa akan memberikan arah tujuan dari siswa. Sama seperti sedang berada di kapal, siswa akan tahu mengapa mereka perlu berlayar sebelum mereka berlayar.

Pentingnya memulai dari mengapa ini tidak perlu disangsikan lagi. Tapi apa saja tipe-tipe penjelasan yang bisa diberikan oleh guru untuk menjawab pertanyaan: “Mengapa saya perlu mempelajari pertanyaan ini?”

Fokus pada kegunaan di masa depan

Guru perlu memberikan gambaran mengenai fungsi dari pelajaran ini di masa depan dari siswa. Kegunaan di masa depan ini tentunya menyesuaikan dengan jenjang pendidikan siswa. Jika masih SD atau SMP, tentunya kegunaan yang dapat dijelaskan tidak perlu untuk 10 tahun ke depan. Mengajar SMA dan kuliah, kegunaan mata pelajaran sudah mulai bisa dibawa ke arah pekerjaan mereka di masa depan. Contohnya ketika mengajar Ekonomi di SMP, guru dapat menjelaskan salah satu topik di ekonomi mengenai nilai tukar uang akan sangat berguna agar siswa dapat menghitung nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing ketika mereka akan pergi liburan ke luar Indonesia.

Hubungkan dengan pelajaran lain atau hobi siswa

Guru dapat menceritakan hubungan antara pelajaran yang diajarkan dengan pelajaran lain, dan bagaimana seluruh mata pelajaran ini akan berguna untuk siswa. Contohnya ketika siswa sudah punya anggapan bahwa pelajaran akuntansi tidak penting, maka guru dapat menghubungkan antara mempelajari akuntansi dengan geografi. Ceritakan contoh misalnya ketika seorang geologis akan pergi untuk  melakukan riset , maka ia perlu untuk untuk menghitung budget. Guru juga dapat menghubungkan dengan hobi siswa. Misalnya dengan menghubungkan akuntansi dengan hobi salah satu siswa, katakanlah memasak. Buat siswa sadar bahwa memasak pun memerlukan perhitungan keuangan, terutama ketika hobi memasak siswa sudah menjadi sebuah bisnis restoran.

Ceritakan pengalaman dan pembelajaran

Melalui cara ini, guru menceritakan mengenai pengalaman pribadi guru tersebut dan hasil pembelajaran yang didapatkan. Tentu saja pengalaman ini haruslah terjadi dengan benar, tidak dibuat-buat oleh guru. Menceritakan pengalaman pribadi akan membuat siswa lebih memperhatikan dan lebih mudah menyerap tujuan dari mata pelajaran yang diajarkan. Pengalaman ini bisa saja pengalaman menyenangkan ataupun yang kurang baik. Yang terpenting adalah mengenai hasil pembelajaran yang didapatkan. Hubungkan antara hasil pembelajaran yang didapatkan dengan pentingnya ilmu yang akan dipelajari oleh siswa.


Memulai dari mengapa adalah langkah krusial untuk semua mata pelajaran, apalagi yang sering mendapat perspesi negatif. Dengan langkah ini, siswa seperti ‘diantar’ menuju cara berpikir yang lebih dewasa dan bertanggungjawab untuk belajar mereka. Tentunya tidak masalah bukan sebagai guru, mengambil waktu 10-15 menit dari pelajaran untuk fokus pada ‘mengapa?’. Hasilnya? Silahkan Anda buktikan sendiri!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s