Autopilot dalam Mengajar

Sebagai guru, apalagi Anda yang sudah mengajar selama lebih dari lima tahun, terkadang cara kita mengajar sudah autopilot. Dalam hal ini autopilot berarti kita tidak lagi berpikir mengenai berbagai hal sebelum memulai kelas. Hal-hal yang sudah biasa dilakukan pada semester-semester sebelumnya tinggal diulang, dengan cara yang sama, tanpa perubahan yang berarti. Bahkan terkadang kita dapat dengan mudah mengingat semua hal tanpa perlu melihat slide atau buku teks yang digunakan.

Sebagai pengajar, kita perlu menyadari signal-signal bahaya dari autopilot. Dalam kondisi ini, kita sudah menjalankan rutinitas dan berada dalam comfort zone. Menjalankan rutinitas secara terus menerus akan mudah menimbulkan kebosanan. Untuk comfort zone, kita pun kehilangan tantangan dan merasa tidak ada lagi yang perlu dikembangkan dan dipelajari. Efek buruknya ke depan adalah bukan tidak mungkin kita kehilangan alasan dan passion menjadi pengajar.

Bayangkan saja ketika Anda setiap hari berada di kantor Anda selama bertahun-tahun tanpa melakukan perubahan apapun. Letak meja, komputer, bahkan letak berkas-berkas Anda tidak pernah berubah. Saya berani jamin Anda akan merasa bosan! Maka dari itu, kita sekali-kali perlu melakukan perubahan minor, atau bahkan perubahan besar, agar situasi menjadi lebih menyenangkan. Dalam hal ini, otak kanan kita yang kreatif perlu untuk digunakan.

Sekarang coba pindahkan pemahaman tersebut ke cara Anda mengajar di kelas. Sesekali, Anda perlu mengubah pendekatan dalam mengajar. Anda dapat mengubah cara mengajar, pendekatan dalam membahas konten, bentuk asesmen, bahkan sekecil mengubah layout tempat duduk kelas. Perubahan-perubahan ini misalnya dengan mengaplikasikan flipped classroom, menggunakan bantuan LMS dalam mengajar, melakukan tracking perkembangan siswa menggunakan blog, dsb. Jika dijalankan, apalagi jika berhasil, dijamin gairah menjadi pengajar akan kembali ada!

Tantangannya tidak bukan adalah kemalasan kita untuk keluar dari comfort zone. Seringkali, kita mengatakan pada diri sendiri: “jika tidak rusak, buat apa diganti?”. Tentu pemikiran ini tidak sepenuhnya salah. Namun tentunya jika dipandang dari akibat buruk ke depannya, maka pemikiran ini perlu dipertimbangkan lagi. Ada juga pemikiran: “saya terlalu sibuk untuk merubah cara mengajar saya!”. Jika demikian, tentunya diskusi lebih lanjut dengan pihak sekolah mengenai alokasi pekerjaan dan waktu perlu dibicarakan lebih lanjut agar Anda bisa lebih maju sebagai guru.

Autopilot memang sulit dihindari. Sebagai manusia, otak kita diprogram untuk menyukai pola dan menghindari ketidakpastian. Semakin terpola sesuatu, maka semakin mudah kita hidup. Efisiensi menjadi kata kuncinya. Tapi sayangnya, efisiensi bukanlah jaminan hidup akan lebih bermakna. Bayangkan saja jika Anda sudah merasa sangat nyaman dengan kualitas hidup Anda saat ini dan tidak punya ambisi apapun untuk berkembang, sekecil apapun. Hal ini tentu akan membuat Anda selamanya berada di kotak Anda dan tidak mengembangkan potensi yang masih banyak Anda miliki. Dalam kasus pendidikan, efisiensi bukanlah kunci keberhasilan mencapai tujuan pembelajaran. Apalagi jika efisiensi ini dijadikan sebagai ‘selimut’ untuk malas berubah.

Pada akhirnya, coba kita cek diri masing-masing. Apakah saat ini Anda sudah autopilot dalam mengajar? Jika iya, maukah Anda untuk berkembang? Jika iya, maka waktunya Anda merancang bagaimana Anda dapat menjadi lebih baik sebagai pengajar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s