“Saya tidak suka pelajaran Bahasa Mandarin!”

Pernahkah kalian belajar Bahasa Mandarin? Benarkah pelajaran Bahasa Mandarin menyeramkan di mata siswa? Beberapa siswa dari berbagai jenjang ada yang menjawab “iya, saya tidak suka pelajaran Bahasa Mandarin karena sulit”, Namun ada pula yang mengatakan “saya tidak suka pelajaran ini, tapi saya harus belajar untuk menambah keterampilan saya dan dapat digunakan ketika bekerja nanti”. Dan banyak alasan lainnya mengapa mereka meyukai atau tidak menyukai Bahasa Mandarin. Bagi siswa yang dalam keluarganya sudah terbiasa dengan bahasa ini, maka tidak heran jika lebih mudah untuk mempelajarinya, dibandingkan dengan siswa yang keluarganya tidak terbiasa dengan bahasa asing ini dan tentu saja membuatnya menjadi tidak terbiasa dan cenderung tidak menyukainya.

Di Indonesia tepatnya setelah era reformasi, Bahasa Mandarin barulah mulailah diperkenalkan kembali. Di beberapa sekolah mulai dari jenjang TK sampai jenjang perguruan tinggi baik swasta maupun negri di Indonesia mulai mengadakan pelajaran Bahasa asing yang satu ini. Beberapa dari kita pernah mendapatkan pelajaran bahasa mandarin baik secara formal yaitu di sekolah atau tempat kursus, sedangkan mempelajari secara tidak formal dapat mempelajarinya secara online, mendengarkan lagu atau dengan menonton film berbahasa mandarin. Namun tidak sedikit siswa-siswi yang tidak menyukai pelajaran ini dalam berbagai jenjang dan bahkan masyarakat keturunan Tionghua pun demikian merasa sulit untuk mempelajarinya. Lantas, apa yang membuat mereka tidak menyukai pelajaran Bahasa Mandarin di Indonesia?

Beberapa sumber yaitu siswa dari beberapa jenjang pendidikan menjawab dengan berbagai alasan, seperti:

Bahasa mandarin itu sulit

Karena banyaknya komponen yang terdapat dalam Bahasa Mandarin (nada, aksara Han, pinyin dan tata bahasa) menjadikan banyak siswa-siswi kurang menyukai pelajaran ini. Contohnya, ketika mengucapkan satu kata dan salah nada, maka salah arti; begitu pula dengan pelafalan, jika kita melafalkannya dengan salah, maka artinya pun akan salah.

Model pembelajaran yang membosankan

Di dalam pendidikan formal seperti sekolah, proses pembelajaran Bahasa Mandarin cenderung kurang menarik dan membuat siswa bosan. Sebagian besar metode pembelajaran yang digunakan adalah metode drill, yang dibahas cenderung teori. Beberapa siswa memberikan pendapat untuk hal ini, “kami bukannya tidak menyukai, hanya ketika lǎoshī menjelaskan kami tidak mengerti apa yang iya bicarakan dan ketika kami bertanya lǎoshī juga tidak menjelaskan dengan mudah untuk dimengerti.” Inti yang didapat dari jawaban mereka adalah jika mereka memahami penjelasan lǎoshī, maka mereka akan suka, sebab mereka memahami pelajaran yang dijelaskan dan menjadi tidak suka karena mereka tidak mengerti apa yang dijelaksan oleh lǎoshī-nya.

Belum meratanya pelajaran Bahasa Mandarin di setiap jenjang pendidikan di Indonesia

Tidak semua sekolah dan setiap jenjangnya di Indonesia mempelajari Bahasa Mandarin, bahkan sekolah-sekolah daerah ibukota Jakarta sekali pun ada yang tidak memiliki mata pelajaran Bahasa Mandarin. Hal ini menjadi sulit ketika sebuah sekolah menerima murid pindahan dari sekolah lain dimana sekolah sebelumnya tidak memiliki pelajaran Bahasa Mandarin, maka siswa ini akan kesulitan untuk mempelajari mata pelajaran ini.

Materi Pelajaran yang kurang sinkron

Materi yang digunakan dalam setiap jenjang terkadang sama, sebagian besar materi untuk jenjang SD terkadang sama atau digunakan kemabli dalam jenjang  SMP atau SMA. Materi boleh saja disamakan temanya, namun seharusnya ada pendalaman materi yang berbeda pada setiap jenjangnya. Hal ini berdasarkan pemilihan buku ajar yang digunakan berbeda-beda dan bukan sesuai dengan kurikulum kita. Contoh, menggunakan buku dari penulis atau penerbit negara lain, dimana seharusnya mereka membuat buku untuk disesuaikan dengan negaranya masing-masing.        

Guru yang mengajar kurang memahami pendidikan

lǎoshī merupakan panggilan untuk guru Bahasa Mandarin, namun sebagian besar lǎoshī yang ada di Indonesia bukanlah berlatar belakang pendidikan untuk pelajaran Bahasa Mandarin, sehingga menjadikan kurang pahamnya metode pembelajaran, desain pembelajarannya atau bahkan program pembelajarannya untuk pelajar warga Indonesia.

Bahasa Mandarin adalah mata pelajaran tambahan/ ekskul atau muatan lokal

Paradigma siswa yang menganggap bahwa pelajaran Bahasa Mandarin merupakan mata pelajaran tambahan, sehingga banyak siswa menganggap kurang pentingnya mata pelajaran ini dibandingkan dengan mata pelajaran lainnya.

Beberapa alasan tersebut hanya sebagian kecil dari gambaran siswa tentang pelajaran bahasa asing ini. Perlu diperhatikan bahwa seiringnya dengan perkembangan global di era ini, bahasa mandarin sekarang ini menjadi nilai tambahan bagi mereka yang mampu dan menjadikan nilai lebih ketika mereka bekerja. Sehingga harapan terbesar muncul, agar pelajar-pelajar di Indonesia kelak ketika berada di lapangan kerja, dapat bersaing di eranya. Tantangan besar bagi para pengajar Bahasa Mandarin (lǎoshī) adalah menjadikan pelajaran Bahasa Mandarin lebih baik dengan membuat inovasi-inovasi pembelajaran yang menyenangkan, mudah dipahami dan disukai oleh siswa-siswanya, sehingga paradigma pelajar akan bahasa asing yang satu ini bergeser menjadi lebih baik.

2 thoughts on ““Saya tidak suka pelajaran Bahasa Mandarin!”

  1. Pelajaran bahasa mandarin adalah sebuah bahasa yang cukup sulit bagi beberapa orang yg belum mempunyai dasar.tetapi dalam proses mengajar jangan terlalu menekan kepada peserta didik karna itu akan menjadi sebuah pelajaran yang membosankan bagi peserta didik.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s