Mengubah Paradigma Pembelajaran: Dari Compliance Menjadi Engagement

Mungkin waktu Anda belajar sebagai guru dulu masih sering dipenuhi dengan guru yang bertindak sebagai ‘polisi’ yang harus selalu dipatuhi. Perkataan, apalagi perintah guru adalah hal yang mutlak harus dilaksanakan. Kalau tidak mematuhi, siap-siap saja hukuman tertentu akan dilimpahkan pada Anda.

Namun sekarang, di kelas, terjadi perubahan besar. Mendidik generasi saat ini, generasi Millennials dan generasi Z sudah jauh berbeda. Perkataan dan perintah guru bisa saja dianggap tidak masuk akal oleh siswa. Mereka pun bisa membantah, mendebatkan, bahkan mengusulkan hal lain yang dianggap lebih baik. Profesi guru, terutama di kota besar dan sekolah-sekolah berlabel ‘Intercultural’, tidak lagi dianggap sebagai ‘polisi’ oleh siswa.

Akibatnya, kita para guru yang mendapatkan didikan dengan cara ‘lama’ ala diktator, seringkali menyalahkan siswa. Kalimat-kalimat seperti: “Anak-anak kelas itu tidak bisa diatur!”, “Siswa X tidak bisa diberitahu!”, “Siswa Y sangat nakal, tidak bisa diurus!”, dsb, jadi cukup sering terdengar. Generasi sekarang dianggap generasi pemberontak, penuh dengan ‘rebel’, tidak bisa diatur, dan yang paling klasik: ‘tidak seperti generasi dulu’.

Memang generasi saat ini tidak seperti generasi dulu. Ketika kita dulu bersekolah, guru adalah pusat informasi. Mendengarkan guru di kelas berarti mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Tidak mendengar, maka seluruh informasi yang dibutuhkan untuk mengerjakan tugas, PR, hingga ujian akan sangat sulit, bahkan mustahil didapatkan. Namun hal ini tentu berbeda dengan generasi saat ini. Guru tidak lagi menjadi pusat informasi. Hanya dalam hitungan detik, seorang siswa dengan HP dan koneksi internet dapat dengan mudah mengakses informasi dan bahkan melebihi informasi yang diketahui oleh gurunya. Akibatnya, mereka tentu akan dengan mudah mengatakan: “Untuk apa mendengarkan guru? Cari saja informasinya di google”.

Artinya, peran guru tidak lagi sebagai pusat informasi dan sudah berganti menjadi ‘guide’ atau konselor, pembimbing, role model, dalam proses belajar mengajar di kelas.

Kepatuhan mendengarkan bukan lagi menjadi kunci utama kesuksesan proses pendidikan.

Kepatuhan mendengarkan hanya akan menghasilkan siswa yang mampu mengerjakan tugas, PR, dan nilai ujian yang baik; namun bukan berarti mampu menciptakan siswa pembelajar dengan kemampuan berpikir yang lebih tinggi, yang adalah salah satu hal paling penting di dunia saat ini.

Dengan guru sebagai ‘guide’ ini, maka yang perlu dilakukan oleh guru adalah menciptakan engagement. Semakin engage seorang siswa terhadap kelas, mata pelajaran, dan guru yang mengajar, maka proses belajar akan semakin mudah terjadi. Pertanyaannya? Bagaimana menciptakan engagement sebagai guru?

Schlechty dalam bukunya ‘Creating Great School’ menyatakan bahwa engagement bisa terjadi ketika guru mampu menciptakan tiga hal. Yang pertama adalah memberikan tugas pada siswa yang mampu menangkap perhatian mereka. Yang kedua adalah membuat siswa mau untuk mengalokasikan sumber daya yang ia miliki (misal: waktu dan energi) untuk mengerjakan tugas dan bahkan tanpa imbalan ekstrinsik. Terakhir, bahwa siswa akan engage ketika tugas yang diberikan memiliki arti dan nilai untuk mereka.

01 Siswa Belajar Engage

Hal pertama adalah memberikan tugas yang mampu menangkap perhatian mereka. Dalam prakteknya, hal ini dapat diberikan misalnya dengan memberikan kasus mengenai hal-hal yang mereka sukai. Jika Anda mengajar anak SMA misalnya, hal yang sedang menjadi tren dalam bidang tertentu, misalnya musik atau fashion, bisa dijadikan sebagai tugas, baik didalam maupun luar kelas sebagai pekerjaan rumah.

Hal ke-dua adalah membuat siswa mau mengalokasikan waktu dan energi untuk membuat tugas. Disini, pekerjaan guru tentu saja bukan hal mudah. Lawan dari alokasi waktu dan energi ini adalah gangguan dari gadget, internet, game, belum lagi lingkungan pergaulan. Untuk itu, beragam strategi perlu dicoba oleh guru. Untuk pendidikan SD, memberikan rewards masih bisa dilakukan. Namun untuk level pendidikan yang lebih tinggi, tentu saja harus sudah mulai melepaskan pemberian reward, apalagi janji akan diberikan tambahan nilai. Cara-cara yang dapat diberikan misalnya membuat tugas menjadi bagian-bagian kecil, membuat tugas yang unik (tidak hanya sekedar menjawab soal), mencampurkan teknologi (contohnya meminta siswa membuat blog atau video YouTube), menggabungkan siswa kelas A dengan kelas B (teman yang berbeda kelas), dan sebagainya.

Hal ke-tiga adalah dengan memastikan bahwa tugas yang diberikan memiliki arti untuk siswa. Hal ini berarti tugas yang diberikan sebisa mungkin dibuat personal, dekat dengan keseharian siswa. Misalnya siswa diminta untuk mewawancarai orangtua mereka, toko kelontong atau warung dekat rumah. Bisa juga dengan meminta siswa memperkenalkan kultur mereka, memperkenalkan penggunaan teknologi tertentu untuk membantu siswa lain belajar, mempresentasikan hobi mereka, dan lainnya.

Tiga hal ini adalah kunci engagement, kata kunci pendidikan masa sekarang. Sebagai guru, kita punya tugas untuk memastikan engagement, bukan hal compliance, bisa terjadi. Banyak sekolah saat ini dalam keadaan darurat mental, kondisi dimana siswa sudah banyak yang tidak menganggap sekolah berguna. Guru sebagai sentral keberhasilan sekolah tentu punya andil besar untuk membuktikan bahwa anggapan ini salah besar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s